Unicamp Preloader
Artikel

Istimewa, Teknik Mewarnai Batik Tulis dengan Lumpur

Istimewa, Teknik Mewarnai Batik Tulis dengan Lumpur

Penulis: Kintan Khairunissa, Romanti

Seperti yang kita ketahui, Indonesia adalah negara yang kaya dengan berbagai macam keberagaman budaya, suku, ras, dan adat istiadat. Sebagai warga Indonesia tentu saja kita tidak asing dengan kerajinan kain batik, sebuah kerajinan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap denyut kehidupan hampir semua warga Indonesia. Boleh dibilang hampir semua orang Indonesia memiliki batik. Batik adalah sebuah produk kesenian yang banyak disukai oleh banyak masyarakat Indonesia yang kini juga telah menjangkau mancanegara.

Dalmini dan Windarti dari Desa Kebon, Klaten, Jawa Tengah melakukan pertunjukan membatik dengan teknik pewarnaan dari lumpur, pada Puncak Peringatan Hardiknas 2022 yang digelar oleh Itjen Kemdikbudristek. (Foto: Redaksi – Ikram).

Pada kesempatan ‘Puncak Peringatan Perayaan Hari pendidikan Nasional (Hardiknas) 2022’, Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Pendidikan, budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbusristek) berkesempatan mendatangkan pengrajin batik asal Desa Kebon, Klaten Jawa Tengah untuk melakukan pertunjukan mewarnai batik on the spot. Dalmini namanya. Ditemani rekannya, Windarti,  mereka berdua adalah pengrajin batik tulis  yang menggeluti membatik dari umur 7 tahun, karena melihat orangtuanya membatik. Kita sudah tidak asing dengan banyaknya berbagai motif dan filosofi dalam kain batik. Pada  kain batik yang dipertunjukkan dalam kesempatan tersebut, menyajikan dua motif, yaitu kontemporer dan klasik. Filosofi motif batik tulis ini bisa kita lihat salah satunya dari motif ‘Wahyu Tumurun’ yang menggambarkan keanugrahan. Sedangkan filosofi untuk motif kontemporer mengambil dari nama tempat asal bu Dalmini yaitu desa kebon, motif kontemporer berisikan motif daun, bunga, ranting, dan segala hal yang berada di kebun dituangkan dalam kain batik. Sama dengan batik yang lainnya, batik tulis asal desa Kebon klaten ini menggunakan lilin malam untuk menahan warna agar tidak masuk ke dalam serat kain. Namun yang membedakan batik asal desa Kebon kecamatan Klaten ini dengan batik yang lainya adalah teknik mewarnai alami yang berasal dari lumpur/tanah yang direndam dengan air  kemudian dicangkul sampai halus  dan  disaring. Air lumpur tersebut diolah menjadi pewarna alami yaitu warna tanah. Selain tanah,  daun-daun, kulit kayu, akar, hingga kulit buah pun digunakan sebagai pewarna alami dari batik yang ditawarkan Dalmini. Tidak sembarang tanah, daun, atau kulit kayu yang dipakai.  Dalmini menggunakan tanah berwarna kecoklatan kemerahan dan juga mencari tanah yang bagus untuk  mengahasilkan warna yang sesuai. Untuk pewarna yang berasal dari daun, pengrajin ini menggunakan daun yang berasal dari pohon jati karena memanfaatkan pohon yang berada di sekitar desanya. Masa pengerjaan batik tulis teknik mewarnai dengan lumpur memakan waktu sekiranya 4 hari.  Apabila batiknya bermotif longgar, maka memakan waktu sehari saja hanya untuk proses mencanting. Untuk proses pewarnaan memakan waktu sekitar 1 minggu . Batik tulis teknik mewarnai dari lumpur ini ternyata sudah sampai ke mancanegara. Banyak orang diluar sana yang tertarik dengan teknik pewarnaan yang alami tanpa merusak alam.

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.