Artikel

“Merayakan Keberagaman” dalam Graphic Record dan Pesan Lainnya dalam BERISIK Bandung 2023

“Merayakan Keberagaman” dalam Graphic Record dan Pesan Lainnya dalam BERISIK Bandung 2023

Penulis: Melody
Graphic record suasana acara BERISIK soal Kebinekaan di Bandung pada 14 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)

Acara Berbincang Asik (BERISIK) soal Kebinekaan telah digelar pada Jumat, 14 Juli 2023 lalu di salah satu resto di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Acara ini mengundang 90 mahasiswa sebagai peserta serta Sakdiyah Ma’ruf, Irfan Amali, dan Purwaniati Nugraheni sebagai pembicara.

Selain keseruan peserta saat bermain berbagai games sambil menikmati berbagai snack, bergaya bersama di photobooth, menjadi subjek sketsa wajah yang bisa dibawa pulang, dan berkenalan dengan teman-teman baru dari puluhan universitas area Bandung dan sekitarnya, para peserta tentunya juga berbincang asik dengan para pembicara. Perbincangan itu sarat dengan pelajaran tentang kebersamaan, keberagaman, dan kebineekan, dan direkam secara live dalam bentuk graphic record.

Apa saja sih, pesan dan pelajaran yang didapat dari kegiatan BERISIK Bandung 2023? Yuk, disimak!

Kebinekaan dan Keberagaman: Fakta Kehidupan dan Peluang Kolaborasi

Graphic record Purwaniati Nugraheni, Plt. Sesitjen sekaligus perwakilan Irjen Kemendikbudristek pada acara BERISIK soal Kebinekaan di Bandung, Jumat, 14 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)

Kebinekaan adalah sesuatu yang ada di sekitar kita setiap hari dan merupakan bagian dari kita. Bahkan anak kembar pun memiliki sidik jari yang beberda.

Menurut Sakdiyah Ma’ruf, sebagai seorang muslim, perbedaan dan kebinekaan adalah rahmat. Dan baginya, bahasa lain rahmat adalah potensi, berkah, dan peluang kolaborasi.

Purwaniati Nugraheni menambahkan bahwa “Bhinneka Tunggal Ika” adalah semboyan yang diwariskan oleh bapak pendiri bangsa untuk menghargai keberagaman berbagai sisi di Indonesia. Irfan Amali pun mengatakan bahwa Indonesia itu luar biasa karena dengan banyaknya perbedaan suku, adat, dan bahasa, Indonesia dapat tetap berdiri sebagai satu negara.

Selain ketiga pembicara utama, Abdur Rohim, observer dari Maarif Institute juga sempat memberi pandangannya tentang kebinekaan. “Kebinekaan seperti alat musik. Berbagai alat musik yang berbeda dengan suara yang berbeda, jika nadanya disesuaikan, akan menjadi musik yang indah. Namun, jika semuanya ingin keras dengan suara masing-masing tentu tidak enak didengar.”

 

Stigma dan Sistem Privilege, Alasan Kebinekaan Penting Diperbincangkan

Graphic record Sakdiyah Ma’ruf pada BERISIK soal Kebinekaan di Bandung, Jumat, 14 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)

“Kebinekaan memiliki potensi untuk tidak dianggap sebagai berkah atau kegembiraan ketika struktur sosial diubah menjadi sistem privilege di mana ada orang yang mendapat hak istemewa di hidupnya karena identitasnya. Sistem privilege, kuasa, diskriminasi, patriarki, dan rasial, dan sebagainya menjadikan kebinekaan menjadi penting untuk diperbincangkan,” ujar Sakdiyah.

Sebagai contoh kasus, Sakdiyah menceritakan tentang orang yang membatalkan pesanan ojek online karena pengemudinya perempuan. Orang tersebut sedang terburu-buru, dan ia berpikir bahwa pengemudi wanita pasti lambat dan tidak tahu jalan tikus. Agar cepat sampai, ia ingin mendapat pengemudi pria. Ketika akhirnya mendapat pengemudi pria, pengemudi itu rupanya tidak tahu jalan karena baru saja pindah dari Jawa. “Saya ikut saja, maunya lewat mana,” kata bapak pengemudi.

Dari cerita itu, Sakdiyah jadi belajar bahwa kita tidak boleh sembarangan menilai seseorang berdasarkan stigma. Dari stigma bahwa pengemudi wanita pasti kurang mumpuni, stigma bahwa orang Arab pasti doanya diterima, stereotip tentang berbagai suku, hingga pandangan bahwa orang kulit putih lebih superior atau cantik dan tampan dibanding warna kulit lain.

Uji Coba Zebra, Bukti Nyata Mudahnya Penggiringan Opini

Graphic record Irfan Amali pada acara BERISIK soal Kebinekaan di Bandung, Jumat, 14 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)

Menurut Irfan Amali, manusia cenderung mengidentifikasi sesuatu dengan berkaca pada diri sendiri. Hal ini dapat dimanfaatkan berbagai pihak untuk menggiring manusia kepada stigma atau pola pikir tertentu.

Irfan Amali pernah membuktikan teorinya dengan uji coba pada siswa SD menggunakan buku karyanya yang berjudul Zebra. Buku Zebra memiliki dua sisi. Di satu sisi, buku tersebut menceritakan bahwa zebra adalah kuda putih berrambut hitam, sedangkan sisi sebaliknya menjelaskan bahwa zebra adalah kuda hitam dengan rambut putih. Pada satu kelas di SD tersebut, Irfan meminta para siswa membaca sisi ‘kuda putih rambut hitam’. Sedangkan pada satu kelas lagi, siswa diminta membaca sisi sebaliknya. Selesai membaca, para siswa diminta menggambar zebra. Pada kelas pertama, siswa memilih menggambar zebra pada papan tulis putih dengan spidol hitam, sedangkan kelas kedua memilih menggambar di papan hitam dengan kapur putih.

Dengan cerita tersebut, Irfan mengingatkan kita untuk tidak mudah tergiring opini. Contoh sederhananya dalam kehidupan sehari-hari adalah iklan produk pemutih kulit yang mengedepankan opini “kulit putih itu cantik” sehingga orang Indonesia yang tidak berkulit putih merasa dirinya jelek dan butuh membeli produk tersebut. Hal ini juga sebelumnya disampaikan oleh Sakdiyah.

Penggiringan opini dapat terjadi dalam berbagai topik dan tempat, termasuk media sosial. “Berdasarkan hasil survei PPIM, yang cenderung melakukan provokasi adalah pihak minoritas,” ujar Irfan. Maksudnya, misalnya ketika membicarakan sesuatu atau seseorang yang disenangi kebanyakan orang, orang yang merasa tidak suka akan lebih banyak bersuara walau jumlah mereka lebih sedikit. “Noisy minority, silent majority. Seharusnya orang-orang yang well-educated seperti kita bisa lebih ‘Berisik’.”

Tips and Tricks Menghadapi Masalah dalam Kebinekaan

Salah satu pertanyaan menarik yang dilontarkan mahasiswa pada sesi diskusi adalah tentang perbedaan dalam pemilihan pemimpin politik. Sebagai jawaban, Sakdiyah mengingatkan bahwa “Kita harus mengembalikan hubungan kita dengan kandidat politik sebagai hubungan kontrak politik, bukan hubungan cinta. Kita sebagai masyarakat punya agenda yang kita titipkan kepada mereka. Siapapun yang mengutamakan agenda masyarakat adalah kandidat yang baik untuk dipilih. Kita jangan mudah digiring, dan bila ada hal-hal yang tidak perlu dipusingkan, jangan dimasukkan ke dalam hati.”

Pertanyaan lain yang diajukan adalah bagaimana menjadi penengah ketika ada masalah tanpa memihak salah satu pihak. Jawaban pertanyaan tersebut dirangkum Irfan Amali menjadi tiga poin:

  1. Siapkan diri menjadi penengah, mediator, atau ‘jembatan’, karena ada kalanya untuk menyeberang dari satu sisi ke sini lain, sebuah jembatan harus ‘diinjak’.
  2. Siapkan skillset mediasi agar kita dapat bersikap adil dalam konflik menggunakan parafrase untuk mengubah kalimat serangan menjadi kalimat objektif beralasan logis bagi telinga lawan bicara.
  3. Siapkan skillset dalam mengecek fakta dan toolset-nya. Misalnya, menyiapkan artikel yang menunjukkan bahwa pendapat yang disampaikan adalah hoaks atau penelitian yang dapat menunjukkan fakta.

 

Membongkar Pola Pikir, Merayakan Kebinekaan

Sakdiyah berpesan bahwa apa yang kita rasakan saat ini terkait kebinekaan, keberagaman, stigma, hingga berbagai prasangka bukanlah hasil yang didapatkan dalam satu atau dua hari, melainkan hasil segregasi sosial dari proses sejarah yang sangat panjang.

“Tugas kita adalah membongkar dan mengubah semua stigma dan prasangka kita terhadap orang dari agama, ras, suku, dan antargolongan yang berbeda. Prasangka yang tidak dibongkar dapat terus berpengaruh negatif. Ayo, kembangkan cara berpikir kritis, keterbukaan, dan welas asih!” ajak Sakdiyah.

Sakdiyah menambahkan, “Tugas kita berat karena kita harus membongkar prasangka dan meluruskan stigma dengan konsekuensi tidak disukai oleh banyak pihak. Meskipun begitu, yakini bahwa ada begitu banyak hal yang jauh lebih penting daripada rasa takut itu. And if you can choose to be anything, choose to be kind.”

Irfan meyakini perdamaian berbasis nilai-nilai agama. Agama apapun yang dianut seseorang, semakin seseorang meyakini agamanya, semakin ia menghargai orang lain. “Semakin beriman, semakin toleran. To be faithful is to be respectful,” ujar Irfan.

Irfan juga mengingatkan bahwa bibit dari semua masalah, dari perundungan hingga genosida, adalah ketidakmampuan manusia dalam melihat perbedaan. “Kita harus bisa merayakan keberagaman!”

Purwaniati Nugraheni pun mendukung pendapat kedua pembicara sebelum beliau. “Kita harus memahami bahwa keberagaman adalah realita, dan kita harus menghargai keberagaman dengan menerima bahwa kita semua beberda, unik, dan istimewa. Kita juga tidak boleh mem-framing diri kita dengan stigma. Kita harus bisa menghargai diri kita sendiri bahwa kita sempurna, bagaimanapun diri kita.”

 

Seperti itulah keseruan bincang-bincang para peserta dan pembicara dalam acara Berbincang Asik (BERISIK) soal Kebinekaan di Bandung. Keseruan lain dapat dilihat di Instagram @itjen_kemdikbud dan pada artikel ini.

Bagi teman-teman yang ingin mendapat kesempatan untuk BERISIK soal Kebinekaan, acara BERISIK juga akan hadir di kota Semarang, Malang, dan Yogyakarta. Jangan lupa cek terus akun Instagram @itjen_kemdikbud untuk mendapat update-nya, ya! Sampai ketemu di acara BERISIK selanjutnya!