REBANA BIANG, KESENIAN KHAS BETAWI

Indonesia adalah negara dengan ragam budaya didalamnya. Dilansir dari Wikipedia, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti halnya kesenian budaya Betawi, Rebana Biang yang merupakan salah satu seni warisan budaya Betawi berupa sebuah Rebana yang memiliki ukuran yang besar.

Pementasan sanggar Pusaka Rebana Biang Ciganjur di Setu Babakan
 (foto: Akun IG @rebannabiang)

Ciri khas yang paling mencolok dari Rebana Biang  dibanding rebana lain yakni jumlahnya yang hanya tiga rebana saja, sedangkan rebana jenis lain memiliki beberapa buah rebana. Tiga buah rebana tersebut mempunyai nama masing-masing. Yang kecil bergaris tengah 30 cm diberi nama gendung, yang berukuran sedang bergaris tengah 60 cm dinamai kotek,  rebana dengan garis tengah mencapai 90 cm disebut juga biang.  Perbedaan lainnya, rebana jenis lain memiliki logam kicrik yang berbunyi gemricing saat dipukul, sedangkan dalam Rebana Biang tak ada.

Pada rebana yang berukuran kecil dimainkan sambil duduk, sedang rebana yang berukuran besar dimainkan dengan telapak kaki dan lutut digunakan untuk menyangga rebana dan untuk mengatur suara digunakan cara tengkepan menggunakan telapak kaki. Berdasarkan cepat lambatnya irama lagu Rebana Biang ada dua macam. Pertama berirama cepat disebut lagu Arab atau lagu nyalun seperti lagu berjudul Rabbuna Salun, Alahah serta Hadro Zikir. Kedua berirama lambat, disebut lagu rebana atau lagu Melayu seperti Alfasah, Yulaela, Anak Ayam Turun Selosin serta Sangrai Kacang.

Konon, pertunjukan Rebana Biang merupakan kesenian ritual yang diajarkan setelah pengajian. Semakin bergesernya zaman dalam perkembangannya, permainan Rebana Biang memasukkan unsur musik lain seperti terompet,rebab,tehyan, dan biola, untuk mengiringi teater, tari yaitu Teater Blantek dan Blenggo. Pertunjukan ini kerap kali memeriahkan berbagai perayaan seperti pernikahan, khitanan, hingga ulang tahun. Dalam perkembangannya, kesenian Rebana Biang telah dikenalkan ke masyarakat Betawi sejak tahun 1825. Tak hanya di wilayah Ciganjur, Jakarta Selatan, perkembangan Rebana Biang juga meluas ke berbagai tempat seperti Cijantung, Cakung, Ciseeng, Parung, Pondok Rajeng, Bojong Gede dan Citayam.

Ditulis oleh: Kintan Khairunissa, Romanti

0 komentar

Mari berkomentar

Email anda tidak akan ditampilkan.